Blogger news

Blogger templates

Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan

Imam As-Syafii, Imam An-Nawawi dan Imam Ibnu Hajr al-Haitamiy pengikut WAHABI?

Sesungguhnya ibadah itu dibangun di atas dalil baik dari Al-Qur'an maupun as-Sunnah yang dipahami oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum.

Tatkala para pemakmur kuburan yang mencari barokah di sana mengetahui bahwasanya perbuatan mereka menyelisihi dan bertentangan dengan terlalu banyak hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka merekapun berusaha untuk berdalil dengan perkataan ulama yang sepakat dengan aqidah mereka.

Diantara perkataan para ulama yang dijadikan dalil untuk menguatkan kebiasaan mereka beribadah di kuburan adalah perkataan Al-Baidhowi rahimahullah.

Padahal perkataan Al-Baidhoowi ini menyelisihi kesepakatan para ulama besar madzhab As-Syafi'iyah. Dan para pemakmur kuburan di tanah air kita secara umum mengaku bermadzhab As-Syafiiyah. Akan tetapi tatkala ada perkataan seorang ulama yang sesuai dengan keyakinan mereka maka merekapun ramai-ramai memegang teguh perkataan tersebut dan meninggalkan hadits-hadits yang begitu banyak yang tidak sesuai dengan kebiasaan mereka…serta meninggalkan kesepakatan perkataan para ulama besar Asy-Syafiiyah.

Pada artikel yang lalu (lihat: http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/186-pendalilan-habib-munzir-dengan-perkataan-al-baidhawi-rahimahullah) telah disanggah 2 pernyataan Al-Baidhowiy rahimahullah dengan menunjukan dalil-dalil dari sabda-sabda Habiibunaa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Maka pada artikel ini akan disanggah pernyataan Al-Baidhowi yang sangat inti yang sangat mendukung keyakinan Habib Munzir, yaitu bolehnya beribadah di kuburan dalam rangka mencari barokah.

Habib Munzir berkata :

"Berkata Imam Ibn Hajar : Berkata Imam Al Baidhawiy : ketika orang yahudi dan nasrani bersujud pada kubur para Nabi mereka dan berkiblat dan menghadap pada kubur mereka dan menyembahnya dan mereka membuat patung-patungnya, maka Rasul saw melaknat mereka, dan melarang muslimin berbuat itu, tapi kalau menjadikan masjid di dekat kuburan orang shalih dengan niat bertabaruuk dengan kedekatan pada mereka tanpa penyembahan dengan merubah kiblat kepadanya maka tidak termasuk pada ucapan yang dimaksud hadits itu" (Fathul Baari Al Masyhur Juz 1 hal 525)" (lihat Meniti Kesempurnaan Iman hal 31)


SANGGAHAN

Kita lihat kembali perkataan Al-Baidhawi rahimahullah :

"Adapun orang yang menjadikan mesjid di dekat (kuburan) seorang yang sholeh dan bermaksud untuk mencari keberkahan dengan dekat dari orang sholeh tersebut, dan bukan untuk mengagungkannya dan juga bukan untuk mengarah kepadanya (tatkala sholat-pen) maka tidak termasuk dalam ancaman (laknat-pen) tersebut"


Bantahan terhadap Al-Baidhowi :

Pertama : Perkataan Al-Baidhowi tentang bolehnya beribadah di kuburan dalam rangka mencari keberkahan bertentangan dengan seluruh dalil yang menunjukan larangan menjadikan kuburan sebagai masjid, karena hadits-hadits tersebut melarang sholat di kuburan secara mutlak, tanpa membedakan niat mencari berkah atau tidak.

Dan telah lalu atsar kisah Anas bin Malik yang sholat di dekat kuburan tanpa ia sadari, dan tentunya Anas tidak sedang mencari barokah dikuburan. Namun demikian ia tetap ditegur oleh Umar bin Al-Khottoob radhiallahu 'anhu.

Oleh karenanya wajib bagi Habib Munzir –yang telah menukil dan sepakat dengan perkataan Al-Baidhowi ini- untuk mendatangkan dalil yang mengkhususkan dalil-dalil umum dan mutlak larangan sholat di kuburan…!!! Karena sebagaimana yang dikenal dalam ilmu ushul fikih jika datang dalil secara umum dan mutlak lantas tidak ada dalil yang mengkhususkannya atau mentaqyidnya maka dalil tersebut tetap pada keumuman dan kemutlakannya.

Kedua : Kontradiksi perkataan Al-Baidhowi yang melarang pengagungan terhadap kuburan orang sholeh, namun membolehkan sholat di dekat kuburan orang sholeh untuk bertabaruuk. Padahal bertabaruuk dengan kuburan orang sholeh itu merupakan bentuk pengagungan terhadap kuburan tersebut.

Setelah menukil perkataan Al-Baidhowiy, As-Shon'aani berkata :

"Aku katakan : Perkataan Al-Baidhoowi : "Bukan untuk mengagungkannya", maka jawabannya :

(*1)"Membangun masjid-masjid di dekatnya dan sengaja bertabaruuk (mencari barokah) dengannya merupakan (bentuk) pengagungan kepadanya.

(*2)Kemudian hadits-hadits yang melarang datang secara mutlak, tidak ada dalil yang menunjukan ta'lil (sebab larangan) sebagaimana yang disebutkan oleh Baidhoowi.

(*3) Tampaknya 'illahnya (sebab pelarangannya) adalah :

-       sadd adz-dzarii'ah (*menutup pintu yang mengantarkan pada kesyirikan)

-      dan juga menjaauh dari bertasyabbuh (menyerupai) para penyembah berhala yang mereka mengagungkan benda-benda mati yang tidak mendengar dan tidak memberi manfaat atau bahaya

-       dan juga mengeluarkan biaya harta untuk hal ini termasuk perkara sia-sia dan mubadzir yang sama sekali kosong dari manfaat,

-       dan hal ini juga menyebabkan pemasangan lantera di atas kuburan yang pelakunya dilaknat

-     serta kerusakan-kerusakan yang tidak terhingga yang timbul akibat membangun di atas kuburan berupa masyaahid (situs ziarah) dan kubah-kubah di atas kuburan" (Subulus salaam syarh Buluughil Maroom, Daar Al-Ma'aarif, cetakan pertama, juz 1 hal 445)

Ketiga : Perkataan Al-Baidhoowi akan bolehnya sholat dekat kuburan dalam rangka mencari keberkahan bertentangan dengan kesepakatan para ulama besar madzhab As-Syafii. Padahal kita ketahui bersama bahwasanya orang-orang yang "hobi" memakmurkan kuburan dan sholat di kuburan di tanah air kita rata-rata mengaku bermadzhab As-Syafii.

Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafii berkata :

"Dan telah sepakat teks-teks dari As-Syafii dan juga Ash-haab (*para ulama besar madzhab syafiiyah) akan dibencinya membangun masjid di atas kuburan, sama saja apakah sang mayat masyhur dengan kesholehan atau tidak karena keumuman hadits-hadits (*yang melarang). Ay-Syafii dan para Ash-haab berkata, "Dan dibenci sholat ke arah kuburan, sama saja apakah sang mayat orang sholeh ataukah tidak". Al-Haafizh Abu Muusa berkata, "Telah berkata Al-Imaam Abul Hasan Az-Za'farooni rahimahullah : Dan tidak boleh sholat ke arah kuburannya, baik untuk mencari barokah atau karena pengagungan, karena hadits-hadits Nabi, wallahu A'lam".(Demikian perkataan An-Nawawi dalam Al-Majmuu' syarh Al-Muhadzdzab 5/289)

Nukilan ini sangatlah tinggi nilainya dalam madzhab As-Syafiiah, dari sisi-sisi berikut:

Pertama : Yang menukil adalah Al-Imam An-Nawawi rahimahullah yang dikenal sebagai muhaqqiqul madzhab. Tentunya para pemakmur kuburan yang senantiasa berkecimpung dengan madzhab As-Syafii sangat mengetahui kedudukan Imam An-Nawawi dalam madzhab As-Syafii?, bahkan dialah yang paling paham tentang pendapat-pendapat para ulama As-Syafi'iyah, demikian juga perbedaan pendapat yang di antara para ulama As-Syafiiyah.

Ibnu Hajr Al-Haitsami As-Syafii berkata :

أَنَّ الْكُتُبَ الْمُتَقَدِّمَةَ عَلَى الشَّيْخَيْنِ لَا يُعْتَمَدُ شَيْءٌ مِنْهَا إلَّا بَعْدَ مَزِيدِ الْفَحْصِ وَالتَّحَرِّي حَتَّى يَغْلِبَ عَلَى الظَّنِّ أَنَّهُ الْمَذْهَبُ وَلَا يُغْتَرُّ بِتَتَابُعِ كُتُبٍ مُتَعَدِّدَةٍ عَلَى حُكْمٍ وَاحِدٍ فَإِنَّ هَذِهِ الْكَثْرَةَ قَدْ تَنْتَهِي إلَى وَاحِدٍ ....

وَهَكَذَا أَنَّ الْمُعْتَمَدَ مَا اتَّفَقَا عَلَيْهِ أَيْ مَا لَمْ يُجْمِعْ مُتَعَقِّبُو كَلَامِهِمَا عَلَى أَنَّهُ سَهْوٌ


"Sesungguhnya kitab-kitab (*fiqh madzhab Asy-Syafi'i) yang terdahulu sebelum dua syaikh (*yaitu Ar-Roofi'i dan An-Nawawi) tidaklah  dijadikan sandaran kecuali setelah pengecekan dan pemeriksaan yang ekstra sehingga kita mencapai perkiraan kuat bahwasanya hal itu (*suatu hukum fiqh) adalah madzhab Asy-Syafii. Dan janganlah terpedaya dengan banyaknya buku yang menyebutkan satu hukum karena buku-buku yang banyak tersebut bisa jadi kembalinya kepada satu buku saja…

Dan demikianlah yang menjadi patokan adalah apa yang disepakati oleh keduanya (*Ar-Rofi'i wa An-Nawawi) yaitu selama para pengkritik perkataan mereka berdua tidak bersepakat bahwa kesepakatan mereka berdua tersebut adalah sahw (*keteledoran)…"(Tuhfatul Muhtaaj juz 1/40)

Bahkan jika terjadi perbedaan antara Ar-Rofii dan An-Nawawi dalam mengenal pendapat yang roojih menurut madzhab Asy-Syafii maka didahulukan pendapat An-Nawawi dari pada pendapat Ar-Rofii

Kedua : Al-Imam An-Nawawi menukil hal ini dalam kitabnya Al-Majmuu', yang telah masyhuur bahwa kitab beliau Al-Majmuu' memiliki tempat yang tinggi di hati para pengikut madzhab Syafi'i terutama dalam mengenal pendapat yang sesungguhnya merupakan madzhab syafi'i dan juga mengenal perbedaan pendapat dan wujuuh dalah fiqih As-Syafi'i.

Ketiga : Al-Imam An-Nawawi menyatakan bahwa hal ini merupakan nas (yaitu perkataan) dari Al-Imam As-Syafi'i

Keempat : Al-Imam An- Nawawi menyatakan bahwa nash dari Al-Imam Asy-Syafii sepakat dengan nash-nash Ash-hab. Dan tentunya para pemakmur kuburan yang mengaku bermadzhab Asy-Syafi'i mengerti pengertian الأَصْحَاب "Ash-hab" dalam perkataan Al-Imam An-Nawawi di atas. Yaitu para ulama besar Syafi'iyah yang telah mencapai derajat yang tinggi sehingga mereka memiliki ijtihad-ijtihad dalam fiqih yang mereka keluarkan (takhrij) berdasarkan metode ijtihad (ushul) Imam Asy-Syafii dan mereka mengambil istinbath hukum-hukum dengan mempraktekan kaidah-kaidah Imam Asy-Syafii. Ibnu Hajr Al-Haitami berpendapat bahwa Ash-hab berakhir pada abad ke-4 H (lihat Al-Fatawa Al-Kubro Al-Fiqhiyah 4/63)

Dan ternyata para ulama yang dikenal dengan ashabul wujuh ini sepakat dengan nash Imam Asy-Syafii. Maka hal ini menunjukan bahwa para ulama besar yang merupakan patokan di madzhab Asy-Syafii telah sepakat akan hal ini, yaitu tidak bolehnya membangun di atas kuburan orang sholeh dan tidak boleh sholat ke arah kuburan orang sholeh.

Kelima : Bahkan untuk menguatkan hal ini Al-Imam An-Nawawi juga menukil dari Az-Za'farooni rahimahullah yang berkata : "Dan tidak boleh sholat ke arah kuburannya, baik untuk mencari barokah atau pengagungan, karena hadits-hadits Nabi"

Dan Az-Za'farooni ini adalah murid langsung Imam As-Syafii dan termasuk murid-murid Imam As-Syafii yang meriwayatkan qoul qodiim (pendapat lama) Imam As-Syafii.

Keenam
: An-Nawawi juga telah menukil kesepakatan para ulama tentang dilarangnya mengusap kuburan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam rangka mencari barokah. Beliau rahimahullah berkata :

"Tidak boleh thowaf di kuburan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan dibenci menempelkan perut dan punggung di dinding kuburan, hal ini telah dikatakan oleh al-Halimy dan yang selainnya. Dan dibenci mengusap kuburan dengan tangan dan dibenci mencium kuburan. Bahkan adab (*ziarah kuburan Nabi) adalah ia menjauh dari Nabi sebagaimana ia menjauh dari Nabi kalau dia bertemu dengan Nabi shallallau 'alaihi wa sallam tatkala masih hidup. Dan inilah yang benar, dan inilah perkataan para ulama, dan mereka telah sepakat akan hal ini.

Dan hendaknya jangan terpedaya oleh  banyaknya orang awam yang menyelisihi hal ini, karena teladan dan amalan itu dengan perkataan para ulama. Jangan berpaling pada perbuatan-perbuatan baru yang dilakukan oleh orang-orang awam dan kebodohan-kebodohan mereka. Sungguh yang mulia Abu Ali  al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah telah berbuat baik dalam perkataannya :

"Ikutilah jalan petunjuk dan tidak masalah jika jumlah pengikutnya yang sedikit. Berhati-hatilah akan jalan kesesatan dan jangan terpedaya oleh banyaknya orang yang binasa (*karena mengikut jalan kesesatan tersebut)." Barangsiapa yang terbetik di benaknya bahwasanya mengusap kuburan dengan tangan dan perbuatan yang semisalnya lebih berkah,  maka ini karena kebodohan dan kelalaiannya, karena keberkahan itu pada sikap mengikuti syari'at dan perkataan para ulama. Bagaimana mungkin keutamaan bisa diraih dengan menyelisihi kebenaran??" (Lihat Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzab 8/257, perkataan An-Nawawi ini juga terdapat dalam Hasyiah Al-'Allamah Ibni Hajr al-Haitami 'ala Syarh Al-Idhoh fi Manasik Al-Haj, cetakan Dar Al-Hadits, Beirut, Libanon hal. 501)






Peringatan :


Sebagian pemakmur kuburan berdalil, dengan apa yang termaktub dalam kitab Roudhoh at-Thoolibiin karya Imam An-Nawawi, sebagaimana berikut ini :

"Boleh bagi seorang muslim atau seorang kafir dzimmi untuk berwashiat untuk mengurus (*membangun) al-masjid al-aqsho dan masjid-masjid yang lainnya, dan juga untuk membangun kuburan para nabi, para ulama, dan sholihin, karena hal itu menghidupkan ziaroh dan bertabarruk dengan kuburan-kuburan tersebut" (Roudotut Thoolibiin, tahqiiq : Adil Ahmad Abdul Maujuud dan Ali Muhammad Mu'awwadl. Cetakan Daar 'Aalam al-Kutub, juz 5 hal 94)

Kalau kita perhatikan di dalam perkataan Imam An Nawawi terkesan diperbolehkan bertabarruk (mencari barokah) dari kuburan.

Maka apakah hal ini membatalkan kesepakatan Imam As-Syafii dan para ulama besar syafiiyah yang telah dinukil An-Nawawi dalam Al-Majmuu'??

Jawabannya tentu adalah tidak, dan ini bisa dijelaskan dari dari beberapa segi :

Pertama : Al-Imam An-Nawawi terkadang menyebutkan pendapat yang mungkar dalam madzhab as-Syafii dalam kitabnya Roudhot Toolibiin. Sebagaimana hal ini beliau jelaskan dalam muqoddimah kitab beliau tersebut. Beliau berkata –menjelaskan metode penulisan kitab beliau ini-:

"Dan aku menyebutkan seluruh fiqih kitab (*yaitu kitab Al-'Aziiz syarh al-wajiiz karya Ar-Rofi'i yang kemudian diringkas oleh An-Nawawi dalam Roudotut Toolibiin), bahkan aku menyebutkan wajah-wajah (*pendapat-pendapat para ulama besar syafiiyah) yang aneh nan munkar, dan aku mencukupkan dalam menyebutkan hukum-hukum tanpa mengkritik dengan kritikan lafzia" (Roudot Toolibiin, juz 1 hal 113)

Maka bisa jadi pendapat tentang bolehnya membangun di atas kuburan para ulama dan sholihin termasuk salah satu dari pendapat-pendapat yang mungkar yang ada di madzhab as-Syafi'i

Kedua : Kitab al-Majmuu' karya an-Nawawi lebih didahulukan daripada kitab Roudotut Tolibin (lihat penjelasan Ibnu Hajr al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaaj 1/40)

Ketiga : Sebagian ulama As-Syafiiah menafsirkan kata 'imaaroh dalam teks di atas adalah bukan membangun bangunan seperti kubah di atas kuburan, akan tetapi maksudnya adalah mengembalikan tanah dan memperbaiki kuburan tersebut sehingga tidak hilang tanda-tandanya.

Az-Zarkasyi berkata dalam kitabnya Al-Khoodim,

"Akan tetapi ta'lil yang disebutkan disini (*yaitu membangun kuburan para nabi dan solihin) karena untuk menghidupkan ziaroh menunjukan bolehnya 'imaaroh kuburan secara mutlak. Dan An-Nawawi diam (*tidak berkomentar) mengikuti asal kitab (*yaitu syarh al-Wajiiz karya Ar-Rofii yang juga menyebutkan tentang 'imaaroh kuburan sholihin) tanpa menjelaskan apa yang dimaksud dengan kata 'imaaroh?. Jika yang dimaksud dengan 'imaaroh adalah membangun kuburan dengan peralatan dan membangun (*bangunan) di atas kuburan maka hal ini tidak diperbolehkan, demikian juga jika ia berwashiat untuk membangun kubah dan maksudnya adalah untuk mengagungkan kuburan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah.

Dan jika yang dimaksud dengan 'imaaroh kuburan adalah mengembalikan tanah ke kuburan dan melazimi kuburan karena khawatir timbulnya rasa keterasingan dan sebagai pemberitahuan bagi orang-orang yang menziarahinya agar tidak hilang kuburan tersebut maka maknanya dekat (*pada kebenaran)" (Sebagaimana dinukil oleh muhaqqiq kitab Roudhotut Tolibiin dalam catatan kaki kitab Roudotut Toolibiin juz 5 hal 94)

Keempat : Ibnu Hajar Al-Haitami (salah seorang ulama besar dari madzhab As-Syafiiah yang dikenal juga sebagai muhaqqiq madzhab setelah zaman Ar-Rofii dan An-Nawawi) telah menjelaskan bahwa pendapat yang menjadi patokan dalam madzhab As-Sayfii adalah dilarangnya membangun di atas kuburan para ulama dan sholihin.

Dalam Al-fataawaa Al-Fiqhiyah Al-Kubroo Ibnu Hajar Al-Haitami ditanya :

وما قَوْلُكُمْ فَسَّحَ اللَّهُ في مُدَّتِكُمْ وَأَعَادَ عَلَيْنَا من بَرَكَتِكُمْ في قَوْلِ الشَّيْخَيْنِ في الْجَنَائِزِ يُكْرَهُ الْبِنَاءُ على الْقَبْرِ وَقَالَا في الْوَصِيَّةِ تَجُوزُ الْوَصِيَّةُ لِعِمَارَةِ قُبُورِ الْعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِينَ لِمَا في ذلك من الْإِحْيَاءِ بِالزِّيَارَةِ وَالتَّبَرُّكِ بها هل هذا تَنَاقُضٌ مع عِلْمِكُمْ أَنَّ الْوَصِيَّةَ لَا تَنْفُذُ بِالْمَكْرُوهِ فَإِنْ قُلْتُمْ هو تَنَاقُضٌ فما الرَّاجِحُ وَإِنْ قُلْتُمْ لَا فما الْجَمْعُ بين الْكَلَامَيْنِ؟

"Dan apa pendapat anda –semoga Allah memperpanjang umur anda dan memberikan kepada kami bagian dari keberkahanmu- tentang perkataan dua syaikh (*Ar-Rofi'I dan An-Nawawi) dalam (*bab) janaa'iz : "Dibencinya membangun di atas kuburan", akan tetapi mereka berdua berkata dalam (*bab) wasiat : "Dibolehkannya berwasiat untuk 'imaaroh kuburan para ulama dan solihin karena untuk menghidupkan ziaroh dan tabaaruk dengan kuburan tersebut". Maka apakah ini merupakan bentuk kontradiksi?, padahal anda mengetahui bahwasanya wasiat tidak berlaku pada perkara yang dibenci. Jika anda mengatakan perkataan mereka berdua kontradiktif maka manakah yang roojih (*yang lebih kuat)?, dan jika anda mengatakan : "Tidak ada kontradikisi (*dalam perkataan mereka berdua)", maka bagaimana mengkompromikan antara dua perkataan tersebut?  (Al-Fataawaa Al-Fiqhiyah Al-Kubro 2/17)

Maka Ibnu Hajr Al-Haitami Asy-Syafii rahimahullah menjawab :

الْمَنْقُولُ الْمُعْتَمَدُ كما جَزَمَ بِهِ النَّوَوِيُّ في شَرْحِ الْمُهَذَّبِ حُرْمَةُ الْبِنَاءِ في الْمَقْبَرَةِ الْمُسَبَّلَةِ فَإِنْ بُنِيَ فيها هُدِمَ وَلَا فَرْقَ في ذلك بين قُبُورِ الصَّالِحِينَ وَالْعُلَمَاءِ وَغَيْرِهِمْ وما في الْخَادِمِ مِمَّا يُخَالِفُ ذلك ضَعِيفٌ لَا يُلْتَفَتُ إلَيْهِ وَكَمْ أَنْكَرَ الْعُلَمَاءُ على بَانِي قُبَّةِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ رضي اللَّهُ عنه وَغَيْرِهَا وَكَفَى بِتَصْرِيحِهِمْ في كُتُبِهِمْ إنْكَارًا وَالْمُرَادُ بِالْمُسَبَّلَةِ كما قَالَهُ الْإِسْنَوِيُّ وَغَيْرُهُ التي اعْتَادَ أَهْلُ الْبَلَدِ الدَّفْنَ فيها أَمَّا الْمَوْقُوفَةُ وَالْمَمْلُوكَةُ بِغَيْرِ إذْنِ مَالِكِهَا فَيَحْرُمُ الْبِنَاءُ فِيهِمَا مُطْلَقًا قَطْعًا إذَا تَقَرَّرَ ذلك فَالْمَقْبَرَةُ التي ذَكَرَهَا السَّائِلُ يَحْرُمُ الْبِنَاءُ فيها وَيُهْدَمُ ما بُنِيَ فيها وَإِنْ كان على صَالِحٍ أو عَالِمٍ فَاعْتَمِدْ ذلك وَلَا تَغْتَرَّ بِمَا يُخَالِفُهُ

"Pendapat yang umum dinukil yang menjadi patokan -sebagaimana yang ditegaskan (*dipastikan) oleh An-Nawawi dalam (*Al-Majmuu') syarh Al-Muhadzdzab- adalah diharamkannya membangun di kuburan yang musabbalah (*yaitu pekuburan umum yang lokasinya adalah milik kaum muslimin secara umum), maka jika dibangun di atas pekuburan tersebut maka dihancurkan, dan tidak ada perbedaan dalam hal ini antara kuburan sholihin dan para ulama dengan kuburan selain mereka. Dan pendapat yang terdapat di al-khoodim (*maksud Ibnu Hajar adalah sebuah kitab karya Az-Zarkasyi, Khodim Ar-Rofi'i wa Ar-Roudhoh, wallahu a'lam) yang menyelisihi hal ini maka lemah dan tidak dipandang. Betapa sering para ulama mengingkari para pembangun kubah (*di kuburan) Imam Asy-Syafii radhiallahu 'anhu dan kubah-kubah yang lain. Dan cukuplah penegasan para ulama (*tentang dibencinya membangun di atas kuburan) dalam buku-buku mereka sebagai bentuk pengingkaran. Dan yang dimaksud dengan musabbalah –sebagaimana yang dikatakan Al-Isnawiy dan yang ulama yang lain- yaitu lokasi yang biasanya penduduk negeri pekuburan. Adapun pekuburan wakaf dan pekuburan pribadi tanpa izin pemiliknya maka diharamkan membangun di atas dua pekuburan tersebut secara mutlaq. Jika telah jelas hal ini maka pekuburan yang disebutkan oleh penanya maka diharamkan membangun di situ dan haurs dihancurkan apa yang telah dibangun, meskipun di atas (*kuburan) orang sholeh atau ulama. Jadikanlah pendapat ini sebagai patokan dan jangan terpedaya dengan pendapat yang menyelisihinya. (al-Fataawaa al-Fiqhiyah al-Kubroo 2/17)

Ibnu Hajar Al-Haitami As-Syafii juga berkata :

وَوَجَبَ على وُلَاةِ الْأَمْرِ هَدْمُ الْأَبْنِيَةِ التي في الْمَقَابِرِ الْمُسَبَّلَةِ وَلَقَدْ أَفْتَى جَمَاعَةٌ من عُظَمَاءِ الشَّافِعِيَّةِ بِهَدْمِ قُبَّةِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ رضي اللَّهُ عنه وَإِنْ صُرِفَ عليها أُلُوفٌ من الدَّنَانِيرِ لِكَوْنِهَا في الْمَقْبَرَةِ الْمُسَبَّلَةِ وَهَذَا أَعْنِي الْبِنَاءَ في الْمَقَابِرِ الْمُسَبَّلَةِ مِمَّا عَمَّ وَطَمَّ ولم يَتَوَقَّهُ كَبِيرٌ وَلَا صَغِيرٌ فَإِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُونَ

"Dan wajib atas para penguasa untuk menghancurkan bangunan-bangunan yang terdapat di pekuburan umum. Sekelompok ulama besar madzhab syafii telah berfatwa untuk menghancurkan kubah (*di kuburan) Imam As-Syafi'i radhiallahu 'anhu, meskipun telah dikeluarkan biaya ribuan dinar (*untuk membangun kubah tersebut) karena kubah tersebut terdapat di pekuburan umum. Dan perkara ini –maksudku yaitu membangun di pekuburan umum- merupakan perkara yang telah merajalela dan tidak menghindar darinya baik orang besar maupun orang kecil" (al-Fataawa al-Fiqhiyah al-Kubroo 2/25)

Ibnu Hajar juga berkata

"Sebagaimana diisyaratkan riwayat (hadits) "Jika ada di antara mereka orang sholeh" Dari sini berkata para sahabat kami (*yaitu para ulama besar Syafi'iyah) : "Diharamkan sholat menghadap kuburan para nabi dan para wali untuk mencari barokah dan pengagungan", mereka mensyaratkan dua perkara, yaitu: (1) kuburan orang yang diagungkan, (2) maksud dari sholat menghadapnya -dan yang menyerupainya sholat di atas kuburan- adalah mencari keberkahan dan pengagungan. Dan sangat jelas dari hadits-hadits yang telah disebutkan bahwa perbuatan ini termasuk dosa besar sebagaimana engkau telah mengetahuinya. Dan seakan-akan Nabi mengkiaskan terhadap hal ini seluruh bentuk pengagungan terhadap kuburan, seperti menyalakan lentera di atas kuburan dalam rangka pengagungan atau untuk mencari keberkahan. " (Az-Zawaajir 'an Iqtirof al-Kabair 1/155)

Kesimpulan :

Pertama
: Para pemakmur kuburan yang banyak mengaku pengikut setia madzhab Asy-Syafii ternyata telah menyelisihi kesepakatan para ulama besar madzhab As-Syafii sebagaimana yang telah dinyatakan oleh An-Nawawi

Kedua : Jika ada diantara mereka yang mengatakan bahwa sebagian ulama syafiiyah membolehkan membangun di atas kuburan maka kita katakan :

-         Pendapat ini menyelisihi kesepakatan ulama besar syafiiyah

-      Pendapat ini bukanlah pendapat yang mu'tamad (yang jadi patokan) dalam madzhab syafii, sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Hajr Al-Haitami. Maka siapakah yang lebih paham dengan madzhab Asy-Syafii?, Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajr Al-Haitami ataukah para pemakmur kuburan dari tanah air kita sekarang ini??? Apalagi bahwa Az-Zarkasyi dengan tegas menyebutnya sebagai perbuatan orang Jahiliyah. Adakah yang lebih keras dari pernyataan Az-Zarkasyi ini?

-        Taruhlah dalam madzhab Asy-Syafi'i ada pendapat bolehnya membangun di atas kuburan, maka kita katakan bahwasanya kita diperintahkan untuk mengikuti dalil. Dan ulama tidaklah ada yang ma'shum (terbebas dari kesalahan). Allah telah memerintahkan kita jika terjadi perselisihan untuk kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits. Dalil-dalil yang ada berdasarkan hadits-hadits yang shahih yang jelas sejelas matahari di siang bolong telah melarang untuk beribadah di kuburan.

Allah telah memerintahkan kita jika terjadi perselisihan untuk kembali kepada Al-Qur'an dan hadits. Allah berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٥٩)

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59)

Ketiga : Para pembaca yang dirahmati Allah, dalam artikel-artikel yang saya tulis untuk menyanggah akidah dan keyakinan Habib Munzir dan para pemakmur kuburan, saya sama sekali tidak menukil perkataan Muhammad bin Abdul Wahhaab rahimahullah… bahkan saya menukil perkataan para ulama Syafi'iyah…!!!!, Namun tatkala sebagian mereka tidak setuju dengan apa yang saya paparkan dengan mudahnya mengatakan dan menuduh saya sebagai Wahabi. Kenapa tidak sekalian saja mengatakan bahwa Imam As-Syafii dan Imam An- Nawawi dan Ibnu Hajr Al-Haitamiy (yang tidak setuju dengan hobi mereka memakmurkan dan mencari barokah dikuburan) juga adalah wahabi??!!,

(bersambung….)
Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 07-11-1432 H / 05 Oktober 2011 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja


Artikel terkait:

Posted on 02.30 / 0 komentar / Read More

Pendalilan Habib Munzir dengan Perkataan Al-Baidhawi rahimahullah

Prolog:

Telah lalu dalil-dalil yang begitu banyak yang menunjukan akan larangan menjadikan kuburan sebagai masjid. Bahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan akan hal ini di akhir hayat beliau… bahkan tatkala beliau sedang sakit sekarat. Semua itu tidak lain karena bahayanya perbuatan menjadikan kuburan sebagai masjid. Karenanya Imam Ibnu Hajr Al-Haitami As-Syafii telah menyebutkan 6 dosa besar yang berkaitan dengan kuburan, yaitu : (1) menjadikan kuburan sebagai masjid, (2) menyalakan api (penerangan) di atas kuburan, (3) menjadikan kuburan sebagai berhala, (4) thowaf di kuburan, (5) mengusap kuburan (*dengan maksud mencari berkah), dan (6) sholat ke arah kuburan
(sebagaimana telah lalu nukilannya, silahkan lihat kembali : http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/185-habib-munzir-salah-menerjemahkan-perkataan-al-baidhoowi-rahimahullah)

Dan kalau kita perhatikan ternyata sebagian kaum muslimin telah terjerumus dalam sebagian besar dosa-dosa besar tersebut. Wallahul musta'aan

Para ulama telah membahas tentang sebab-sebab kenapa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam begitu keras memperingatkan umatnya dari beribadah di kuburan dan dari pengagungan terhadap kuburan dan penghuni kuburan.

Diantara sebab-sebab tersebut ada dua sebab yang utama :
Pertama : Agar tidak bertasyabbuh (meniru-niru) kaum musyrikin dalam rangka tata cara beribadah, dan

Kedua : Karena peribadatan kepada Allah di kuburan orang sholeh merupakan sarana/wasilah yang bisa mengantarkan pelaku ibadah tersebut akhirnya menyerahkan sebagian bentuk peribadatan kepada sang penghuni kubur tersebut, yang menjerumuskan kepada kesyirikan.

Karena pengertian syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah di dalam perkara yang khusus milik Allah, dalam hal ini, orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid, mengerjakan berbagai macam ibadah di dalamnya, hal ini dikhawatirkan akan mengantarkan pelaku ibadah di kuburan ini sehingga akhirnya menyerahkan beberapa ibadah kepada sang penghuni kubur dan memang realitanya demikianlah yang terjadi, wallahul musta’aan.

Oleh karena inilah, sebab yang kedua ini adalah sebab paling utama dari sebab-sebab yang lain, kenapa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dengan keras umatnya menjadikan kuburan sebagai masjid.


SEBAB PERTAMA : AGAR TIDAK BERTASYABBUH DENGAN AHLUL KITAB


Adapun sebab pertama ini maka sangat jelas ditunjukkan oleh hadits-hadits umum tentang larangan dan celaan bertasyabbuh dengan kaum musyrikin terutama dari kalangan ahlul kitab, seperti misalnya hadits berikut ini:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

"Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia termasuk mereka" (HR Abu Dawud no 4033)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bukan saja memerintahkan kita untuk menyelisihi orang-orang musyrik dalam tata cara ibadah, bahkan Nabi juga memerintahkan kita untuk menyelisihi mereka dalam hal adat istiadat sehingga terbedakan antara kum muslimin dengan kaum musyrikin.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : خَالِفُوا الْمُشْرِكِيْنَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

Dari Ibnu Umar dari Nabi shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Selisihlah kaum musyrikin, lebatkanlah jenggot dan cukurlah kumis" (HR Al-Bukhari no 5892 dan Muslim no 259)

Apalagi dalam masalah ibadah, maka tentu lebih ditekankan untuk menyelisihi kau musyrikin

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

خَالِفُوا الْيَهُودَ فَإِنَّهُمْ لاَ يُصَلُّونَ فِى نِعَالِهِمْ وَلاَ خِفَافِهِمْ

"Selisihlah orang-orang yahudi, sesungguhnya mereka tidak sholat memakai sendal-sendal dan sepatu-sepatu mereka) (HR Abu Dawud no 652)

Nabi juga bersabda :

عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : فَصْلٌ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحْرِ

Dari 'Amr bin al-'Aash bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ; "Pemisah antara puasa kita dengan puasa ahlul kitab adalah makan sahur" (HR Muslim no 1097)

Hadits ini jelas menunjukan bahwa memisahkan dan membedakan antara ibadah kaum muslimin dengan ibadah ahlul kitab sangatlah dituntut. Karenanya disyari'atkan makan sahur untuk membedakan antara puasa kaum muslimiin dengan puasa Ahlul kitab.

Demikian pula disyari'atkan kaum muslimin untuk segera berbuka dalam rangka menyelisihi puasanya Ahlul Kitab yang mengakhirkan berbuka. Rasulullah bersabda :

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

"Senantiasa manusia dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka" (HR Al-Bukhari no 1957 dan Muslim no 1098)

Dalam hadits yang lain beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

لاَ يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ لأَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ

"Agama ini akan senantiasa unggul selama manusia menyegerakan berbuka, karena orang-orang yahudi dan nashoro mengakhirkan berbuka" (HR Abu Dawud 2355)

Ibnu Hajar berkata –tentang dua hadits ini-, وَظُهُوْرُ الدِّيْنِ مُسْتَلْزِمٌ لِدَوَامِ الْخَيْرِ "Dan unggulnya agama ini melazimkan lestarinya kebaikan" (Fathul Baari 4/199)

Hadits ini sangat tegas menjelaskan bahwasanya unggulnya agama ini timbul akibat menyegerakan berbuka, yang hal ini merupakan bentuk penyelisihan terhadap ahlul kitab dalam tata cara beribadah. Dan jika penyelisihan ahlul kitab merupakan sebab unggulnya Islam di atas agama-agama yang lain maka hal ini menunjukkan bahwa menyelisihi ahlul kitab dalam tata cara ibadah merupakan tujuan diutusnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Diantara tata cara ibadah ahlul kitab yang kita diperintahkan untuk menyelisihinya adalah beribadah di kuburan orang-orang sholeh. Dan telah lalu penyebutan hadits-hadits tentang hal ini, akan tetapi tidak ada salahnya kita menelaahnya kembali.

Hadits pertama :                                                                                       

عن عائشة رضي الله عنها عن النبي صلى الله عليه وسلم قَالَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيْهِ : لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسْجِدًا. قَالَتْ وَلَوْلاَ ذَلِكَ لَأَبْرَزُوْا قَبْرَهُ غَيْرَ أَنِّي أَخْشَى أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا

Dari Aisyah radhiallah 'anhaa bahwasanya tatkala Rasulullah sakit yang dimana beliau meninggal pada sakit tersebut maka beliau bersabda : "Allah melaknat orang-orang yahudi dan nasrani, (karena) mereka telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid"

Aisyah berkata : "Kalau bukan karena hal ini tentu mereka (para sahabat) akan mengeluarkan kuburan Nabi (dari rumah Aisyah-pen) hanya saja aku khawatir kuburan Nabi dijadikan masjid" (HR Al-Bukhari no 1130 dan Muslim no 529)

Hadits kedua :

عَنْ جُنُدُب قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوْتَ بِخَمْسٍ ... أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Dari Jundub (bin Abdillah Al-Bajali) berkata : Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallah lima hari sebelum beliau wafat, beliau berkata : "Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian mereka menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka dan kuburan orang-orang sholeh mereka sebagai masjid-masjid, maka janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang kalian dari hal itu" (HR Muslim no 532)

Hadits ketiga :

أَنَّ عَائِشَةَ وَعَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ قَالاَ لَمَّا نُزِلَ بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيْصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ : لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوْا

Bahwasanya Aisyah dan Abdullah bin Abbas berkata : Tatkala ajal menjemput Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam maka beliau menjadikan sebuah kain (yang terbuat dari bulu domba-pen) di atas wajah beliau (karena demam yang beliau rasakan-pen), jika beliau merasa sesak maka beliaupun membuka kain tersebut dari wajahnya, –dan beliau dalam kondisi demikian-lalu beliau berkata  : "Laknat Allah kepada orang-orang yahudi dan nasoro, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid-masjid", Nabi memperingatkan dari perbuatan yang mereka lakukan. (HR Al-Bukhari no 436 dan Muslim no 531)

Hadits keempat :

أَنَّ أُمَّ حَبِيْبَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيْسَةً رَأَيْنَهَا بِالْحَبَشَةِ فِيْهَا تَصَاوِيْرُ فَذَكَرَتَا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيْهِمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوْا فِيْهِ تِلْكَ الصُّوَرَ فَأُوْلَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Sesungguhnya ummu Habibah dan Ummu Salamah menyebutkan tentang sebuah gereja yang mereka berdua lihat di negeri Habasyah, pada gereja tersebut ada gambar-gambar, maka mereka berduapun menceritakan hal ini kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka Nabi berkata : "Sesungguhnya mereka itu jika ada seorang yang sholeh di antara mereka lalu orang sholeh tersebut meninggal maka mereka membangun di atas kuburannya masjid, lalu mereka menggambar gambar-gambar tersebut pada masjid tersebut, maka mereka adalah orang-orang yang terburuk di sisi Allah pada hari kiamat" (HR Al-Bukhari no 427 dan Muslim no 528)

Hadits kelima :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ : قَاتَلَ اللهُ الْيَهُوْدَ اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Dari Abu Huroiroh bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Allah memerangi orang-orang yahudi, mereka telah menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid-masjid"(HR Al-Bukhari no 437 dan Muslim no 530)

Para pembaca sekalian…meskipun Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah meperingatkan akan bahayanya meniru-niru tata cara ibadah ahlul kitab akan tetapi tetap saja akan ada dari kaum muslimin yang meniru-niru mereka. Hal ini sebagaimana telah dikabarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

عن أبي سعيد الخدري عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوْهُمْ، قُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ : فَمَنْ؟

Dari Abu Sa'iid Al-Khudri dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan-jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal-sejengkal, sehasta-sehasta, sampai-sampai jika mereka masuk dalam lubang dhobt maka kalian akan mengikuti mereka".

Kami berkata : "Orang-orang yahudi dan nashoro wahai Rasulullah?".

Nabi berkata : "Siapa lagi (*kalau bukan mereka)?"(HR Al-Bukhari no 7320).

Karenanya kita dapati :

-         Jika Ahlul kitab (kaum nashoro) beribadah dengan musik dan nyanyian maka kaum muslimin ada yang mengikuti gaya mereka…

-         Jika orang-orang nashrani beribadah dengan merayakan hari kelahiran Isa 'alaihis salaam, maka diantara kaum muslimin ada yang juga merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam...

-         Jika orang yahudi ada yang mengakhirkan buka puasa mereka maka ada juga kaum yang mengaku islam yang mengikuti cara mereka ini…(yaitu orang-orang syi'ah)

-         Jika orang nashrani mengatakan bahwa Allah telah bersatu dengan Isa 'alaihis salaam, maka golongan wihdatul wujud juga meyakini bahwa Allah bersatu dengan para wali…

-         Jika orang-orang yahudi sibuk beribadah di kuburan maka sebagian kaum muslimin juga ada yang sibuk beribadah di kuburan. Bahkan hatinya lebih khusyu' dan bisa lebih tentram dan lebih semangat daripada jika beribadah di masjid.


SEBAB KEDUA : MENJADIKAN KUBURAN SEBAGAI MASJID MERUPAKAN SARANA YANG MENGANTARKAN KEPADA KESYIRIKAN

Sebab kedua ini memiliki keterkaitan erat dengan sebab pertama. Karena faedah utama dari larangan bertasyabbuh (meniru-niru) ibadah kaum musyrikin agar kaum muslimin (ahli tauhid) benar-benar terjauhkan dari kesyirikan.

Sisi-sisi pendalilan yang menunjukkan sebab yang kedua ini adalah :

Pertama : Nabi melarang bertasyabbuh dengan kaum musyrikin bukan hanya bentuk tata cara beribadah saja, bahkan jika waktu ibadahnya sama maka dilarang oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka bagaimana lagi jika bentuk ibadahnya sama?, maka akan semakin mengantarkan kepada sarana kesyirikan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkata keapda 'Amr bin 'Abasah radhiallahu 'anhu :

صَلِّ صَلاَةَ الصُّبْحِ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِيْنَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ وَحِيْنَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ، .... حَتَّى تُصَلِّيَ الْعَصْرَ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَإِنَّهَا تَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ وَحِيْنَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ

"Sholatlah engkau sholat subuh, kemudian berhentilah dari sholat hingga terbit matahari hingga matahari naik, karena sesungguhnya matahari tatkala terbit ia terbit di antara dua tanduk syaitan, dan tatkala itu orang-orang kafir sujud kepada matahari…(*hingga perkatan Nabi) Hingga engkau sholat 'ashar kemudian berhentilah dari sholat hingga matahari tenggelam, karena sesungguhnya matahari tenggelam diantara dua tanduk syaitan, dan tatkala itu orang-orang kafir sujud kepada matahari" (HR Muslim no 832)

Perhatikanlah.. Nabi melarang untuk sholat setelah subuh hingga matahari meninggi dan juga melarang untuk sholat setelah ashar hingga matahari terbenam karena tatkala itu para penyembah matahari sedang sujud menyembah matahari. Nabi melarang dari sisi waktu, karena waktu tersebut adalah waktu beribadahnya kaum musyrikin. Padahal seseorang yang sedang sholat pada waktu tersebut hampir-hampir tidak terbetik di benaknya untuk menyembah matahari !!!, akan tetapi Nabi tetap melarang sholat pada waktu tersebut karena itu merupakan waktu beribadahnya para penyembah matahari.

Jika tasyabbuh dengan musyrikin dari sisi waktu saja dilarang maka bagaimana dengan sholat di kuburan yang merupakan tatacara ibadah orang yahudi dan nashoro?? Tentu lebih dilarang lagi !!!, terlebih lagi orang yang sholat di kuburan timbul dalam hatinya pengagungan terhadap para sholihin dalam kuburan !!! yang hingga akhirnya mengantarkan sebagian kaum muslimin beristighotsah (memohon pertolongan di waktu terdesak), berdoa, dan meminta kepada penghuni kubur !!! yang ini jelas merupakan kesyirikan !!!, demikian juga kondisi orang-orang yang beribadah di kuburan yang seakan-akan lebih afdhol sholat dan beribadah di kuburan wali daripada di masjid !!!, sehingga mereka lebih khusyuk jika di kuburan…merasa doa mereka lebih dikabulkan jika dikuburan daripada jika di masjid. Karenanya kita dapati masjid yang megah dan mewah akan sepi dibanding masjid yang lebih kecil dan lebih sederahana jika teryata dalam masjid kecil tersebut ada kuburan seorang wali…. Masjid tersebut menjadi ramai bukan karena kondisinya sebagai masjid… akan tetapi karena barokah kuburan sang wali..!!!!!

Kedua : Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

اللهُمَّ لا تَجْعَلْ قبْرِي وَثنَا ، لعنَ الله ُ قوْمًا اتخذُوْا قبوْرَ أَنبيَائِهمْ مَسَاجِد

"Ya Allah janganlah Engkau menjadikan kuburanku berhala, Allah telah melaknat suatu kaum yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid" (HR Ahmad no 7358)

Perhatikanlah…sebelum Nabi bersabda "Allah telah melaknat suatu kaum yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid", Nabi bersabda terlebih dahulu, "Ya Allah janganlah Engkau menjadikan kuburanku sebagai berhala", sebagai peringatan bahwasanya menjadikan kuburan-kuburan para nabi sebagai masjid bisa mengantarkan pada menjadikan kuburan-kuburan tersebut sebagai berhala yang disembah. Yang tentunya ini merupakan kesyirikan.

Inilah yang diisyaratkan oleh Imam As-Syafii rahimahullah sebagaimana dinukil oleh Asy-Syiroozi, Asy-Syiroozi berkata :

"Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai berhala (sesembahan), karena sesungguhnya bani Israil telah binasa karena mereka menjadi kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid". As-Syafii berkata, "Dan aku benci diagungkannya seorang makhluq hingga kuburannya dijadikan mesjid, kawatir fitnah atasnya dan atas orang-orang setelahnya" (Al-Muhadzdzab 1/456, dengan tahqiq : DR Muhammad Az-Zuhaili)

Ketiga : Digandengkannya antara larangan menjadikan kuburan sebagai masjid dan larangan menjadikan lampu di kuburan.

عَن ابْن عَباس قالَ:«لعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زُوّارَاتِ القبوْرِ، وَالمتَّخِذِينَ عَليْهَا المسَاجِدَ وَالسُّرُج»

Dari Ibnu Abbas berkata : "Rasulullah melaknat para wanita yang meziarahi kuburan dan orang-orang yang menjadikan di atas kuburan-kuburan masjid-masjid dan lampu-lampu" (HR Ahmad no 2030, Abu dawud no 3236, At-Thirmidzi no 320, An-Nasaai no 2034, Ibnu Maajah no 1575, dan dan Ibnu Hibban dalam shahihnya no 3179 dan 3180

Dalam hadits ini Nabi juga melaknat orang yang membuat penerangan di atas kuburan. Tentunya 'illah (sebab) larangan tidak lain adalah karena hal itu merupakan sarana yang mengantarkan pada pengagungan penghuni kubur. Dan Nabi menggandengankan laknatnya pada orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid dengan laknat beliau kepada orang-orang yang menjadikan lampu di kuburan. Hal ini menunjukan bahwa sebab larangan kedua perkara tersebut adalah sama, yaitu sama-sama merupakan sarana yang mengantarkan pada pengagungan penghuni kubur. Dan pengagungan terhadap penghuni kubur mengantarkan kepada kesyirikan sehingga menjadikan penghuni kubur sebagai tempat meminta dan beristighotsah.

Renungkanlah perkataan Imam As-Syaukaaniy berikut ini :



"Tidak diragukan lagi bahwasanya sebab terbesar yang menumbuhkan keyakinan seperti ini terhadap para mayat (*yaitu para mayat bisa memberi manfaat dan menolak mudhorot) adalah apa yang dihiaskan syaitan kepada manusia tentang meninggikan kuburan, meletakan kain-kain (kelambu) di atasnya, mengapurinya (menyemennya) dan membaguskan dan menghiasinya dengan seindah-indahnya. Sesungguhnya seorang yang jahil jika melihat sebuah kuburan dari kuburan-kuburan yang dibangun kubah di atasnya lalu ia melihatnya dan melihat bahwa di atas kuburan ada kain-kain yang indah, lampu-lampu yang menyala-nyala, dan di sekitarnya tersebar harum semerbaknya wewangian, maka tidak diragukan lagi bahwasanya hatinya akan dipenuhi dengan pengagungan terhadap kuburan tersebut, dan pikirannya sempit untuk bisa memiliki gambaran tentang manzilah (kedudukan tinggi) sang mayat. Dan syaitan akan menanamkan untaian keyakinan-keyakinan yang rusak ke dalam hatinya berupa rasa takut dan haibah (kharismatik sang mayat) rasa merinding dan kharismatik sang mayat yang ini semua termasuk tipuan syaitan yang sangat besar kepada kaum muslimin, dan merupakan sarana terkuat untuk menyesatkan hamba sehingga mengoncangkannya dari Islam sedikit demi sedikit, hingga akhirnya ia meminta kepada penghuni kubur teresbut sesuatu yang tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Allah, maka jadilah ia termasuk dalam barisan kaum musyrikin"

"Dan bisa jadi kesyirikan ini menimpanya tatkala pertama kali melihat kuburan tersebut yang dalam kondisi demikian. Dan tatkala pertama kali ia menziarahi kuburan tersebut maka pasti terpetik di benaknya bahwasanya perhatian yang begitu besar dari orang-orang yang hidup terhadap mayat yang seperti ini tidak mungkin dilakukan kecuali karena ada faedah/manfaat yang mereka harapkan dari mayat ini, manfaat dunia maupun manfaat akhirat. Akhirnya iapun merasa kecil di hadapan orang yang dilihatnya dari kalangan ulama yang menziarahi kuburan tersebut dalam kondisi berdiam di kuburan tersebut dan mengusap-ngusap kuburan tersebut" (Syarh As-Suduur bi tahriim rof'i al-qubuur hal 17-18)

Keempat : Menjadikan kuburan sebagai masjid mengantarkan pada pengagungan yang berlebih-lebihan kepada sholihin penghuni kuburan. Dan pengagungan yang berlebihan kepada sholihin merupakan sebab terbesar timbulnya kesyirikan pada bani Adam.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbaas radhiallahu 'anhumaa, ia berkata :

صَارَتْ الْأَوْثَانُ الَّتِي كَانَتْ فِي قَوْمِ نُوحٍ فِي الْعَرَبِ بَعْدُ أَمَّا وَدٌّ كَانَتْ لِكَلْبٍ بِدَوْمَةِ الْجَنْدَلِ وَأَمَّا سُوَاعٌ كَانَتْ لِهُذَيْلٍ وَأَمَّا يَغُوثُ فَكَانَتْ لِمُرَادٍ ثُمَّ لِبَنِي غُطَيْفٍ بِالْجَوْفِ عِنْدَ سَبَإٍ وَأَمَّا يَعُوقُ فَكَانَتْ لِهَمْدَانَ وَأَمَّا نَسْرٌ فَكَانَتْ لِحِمْيَرَ لِآلِ ذِي الْكَلَاعِ أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنْ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمْ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ

"Patung-patung yang tadinya berada di kaum Nuuh berpindah di kaum Arab. Adapun Wadd menjadi (sesembahan-pen) kabilah Kalb di Daumatul Jandal, dan adapun Suwaa' berada di kabilah Hudzail. Adapun Yaguuts di kabilah Murood kemudian berpindah di kabilah Guthoif di Jauf di Saba'. Adapun Y'auuq berada di kabilah Hamdan. Adapun Nasr maka di kabilah Himyar di suku Dzul Kilaa'. Mereka adalah nama-nama orang-orang sholeh dari kaum Nuuh. Tatkala mereka wafat maka syaitan membisikkan kepada kaum Nuuh untuk membangun di tempat-tempat yang biasanya mereka bermajelis patung-patung dan agar patung-patung tersebut diberi nama sesuai dengan nama-nama mereka. Maka kaum Nuuh melakukan bisikan syaitan tersebut, dan patung-patung tersebut belum disembah. Hingga tatkala kaum yang membangun patung-patung tersebut meninggal dan ilmu telah dilupakan maka disembahlah patung-patung tersebut" (Shahih Al-Bukhari no 4920)

Ibnu Hajar berkata :

"Dan kisah orang-orang sholeh merupakan awal peribadatan kaum Nuuh terhadap patung-patung ini, kemudian mereka diikuti oleh orang-orang setelah mereka atas peribadatan tersebut" (Fathul Baari 8/669)

Ibnu Katsiir As-Syafii menukil riwayat dari Ibnu Abi Haatim dari Abu Ja'far dimana ia berkata :

"Wadd adalah seorang lelaki muslim, dan ia dicintai oleh kaumnya. Tatkala ia meninggal maka merekapun berkumpul di sekitar kuburannya di negeri Baabil, dan mereka bersedih. Maka tatkala Iblis melihat kesedihan mereka terhadap Wadd maka Iblispun menyamar dalam bentuk seorang manusia kemudian ia berkata : "Aku melihat kesedihan kalian kepada orang ini, maka maukah kalian jika aku membuat patung yang serupa dengannya lalu patung tersebut kalian letakkan di tempat perkumpulan kalian maka kalian akan mengenangnya?". Mereka berkata : Iya. Maka Iblispun membikin patung yang serupa dengannya lalu mereka meletakkan patung tersebut di tempat perkumpulan mereka lalu merekapun mengenangnya. Maka tatkala Iblis melihat bagaimana mereka mengenang Wadd maka ia berkata : "Maukah kalian jika aku membuat di setiap rumah kalian patung serupa dengannya maka setiap kalian akan mengenangnya?", mereka berkata, "Iya". Lalu Iblispun membuat disetiap rumah sebuah patung yang serupa dengan Wadd, lalu merekapun mengenangnya dengan patung tersebut. Lalu anak-anak mereka mendapati mereka dan melihat apa yang mereka lakukan, dan lalu mereka beranak pinak dan telah hilang perkara "dalam rangka mengenang Wadd" hingga akhirnya mereka menjadikan Wadd sebagai sesembahan yang mereka sembah selai Allah, yaitu cucu-cucu mereka. Maka jadilah Wadd adalah yang pertama kali disembah selain Allah adalah patung yang mereka namakan Wadd" (Tafsiir Al-Qur'aan Al-'Adziim 14/143-144)

Imam As-Syarbiiniy Asy-Syafii –setelah menyebutkan perkataan Muhammad bin Ka'ab dan Muhammad bin Qois yang semakna dengan perkataan Ibnu Abbas dan Abu Ja'afar di atas- maka beiau berkata dalam tafsirnya As-Sirooj Al-Muniir:

"Maka permulaan penyembahan berhala sejak waktu tersebut. Dan dengan makna ini ditafsirkan hadits yang ada dalam shahihain dari hadits Aisyah bahwasanya Ummu Habibah dan Ummu Salamah menyebutkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang sebuah gereja yang mereka berdua lihat di negeri Habasyah yang gereja tersebut dinamakan Mariah. Di gereja tersebut terdapat gambar-gambar. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata : Sesungguhnya mereka jika ada seorang yang sholeh meninggal diantara mereka maka mereka membangun di atas kuburannya masjid, kemudian mereka membuat gambar-gambar tersebut di situ. Mereka adalah orang terburuk di sisi Allah pada hari kiamat"  (As-Sirroj Al-Muniir 4/394)

Para pembaca sekalian, lihatlah bagaimana Asy-Syarbini salah seorang ulama besar dari madzhab As-Sayfiiah telah mengkaitkan kisah kaum Nuuh dengan masalah menjadikan kuburan sebagai masjid.

Lebih mendukung hal ini adalah salah satu sesembahan kaum musyrikin adalah "Laata" merupakan patung seorang sholeh yang suka membuat adonan makanan untuk para jema'ah haji. Imam Al-Bukhari meriwayatkan:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي قَوْلِهِ { اللَّاتَ وَالْعُزَّى } كَانَ اللَّاتُ رَجُلًا يَلُتُّ سَوِيقَ الْحَاجِّ

"Dari Ibnu Abbaas radhiallahu 'anhu tentang firman Allah ((Laata dan Uzzah)) (ia berkata) : Laata dahulu adalah seorang yang membuat adonan makanan haji" (HR Al-Bukhari no 4859)

Imam At-Thobari juga meriwayatkan dalam tafsirnya

"Dari Mujaahid, ia berkata : "Al-Laata dahulu membuat adonan makanan bagi mereka, lalu iapun meninggal, maka merekapun i'tikaaf (*diam dalam waktu yang lama-pen) di kuburannya maka merekapun menyembahnya" (Tafsiir At-Thobari 22/47)



KRITIKAN TERHADAP PENDALILAN HABIB MUNZIR DENGAN PERKATAAN AL-BAIDHOWIY RAHIMAHULLAH

Sesudah kita memahami perkara-perkara yang ditulis di atas, maka penulis ingin mengajak para pembaca sekalian untuk melihat kekeliruan pendapat Habib Munzir yang berdalil dengan pendapat Al Baidhawiy. yang inti pendalilan beliau ini bertujuan, bahwa menurut habib Munzir menjadikan kuburan sebagai masjid tidak mengapa dan tidak dilarang dan yang dilarang adalah menginjak-nginjak!

Mari kita perhatikan.

Habib Munzir
berkata :

"Berkata Imam Al-Baidhoowi : Bahwa kuburan Nabi Ismail as adalah di Hathiim (di samping Miizab di ka'bah dan di dalam masjidil haram) dan tempat itu justru afdhol sholat padanya, dan larangan sholat di kuburan adalah kuburan yang sudah tergali. (Faidhul Qodiir juz 5 hal 251)"

Demikian perkataan Habib Munzir dalam kitabnya Meniti Kesempurnaan Iman hal 31.

Perkataan Habib Munzir ini bertujuan menjadikan kuburan sebagai masjid tidak mengapa dan tidak dilarang!

Berikut teks asli perkataan Al-Baidhowi sebagaimana dalam Faidhul Qodiir 5/251 :

"Al-Baidhoowi berkata : "Tatkala mereka (*yahudi dan nasoro) sujud pada kuburan nabi-nabi mereka karena mengagungkan kuburan-kuburan tersebut maka Rasulullah melarang umatnya dari seperti perbuatan mereka. Adapun barangsiapa yang menjadikan masjid di dekat orang sholeh atau sholat di kuburannya sambil merasakan kedekatan ruh orang tersebut atau sampainya atsar ibadah orang sholeh tersebut kepadanya, bukan karena mengagungkannya maka tidaklah mengapa. Tidakah engkau lihat bahwasanya kuburan Ismail as berada di Al-Hathiim, dan tempat tersebut lebih utama untuk sholat di situ. Dan larangan untuk sholat di kuburan hanyalah khusus bagi kuburan yang telah digali" (Faidhul Qodiir 5/251)



Tentu para pembaca bertanya-tanya, kenapa Imam Al-Baidhowi mengkhususkan pelarangan sholat di kuburan hanya pada kuburan yang telah tergali??.

Jawabannya adalah ternyata Al-Baidhowi menyatakan bahwa sebab dilarangnya sholat di kuburan jika kuburan tersebut najis.

Mari kita lihat teks perkataan Al-Baidhowi secara lengkap sebagaimana dinukil dalam Syarh Muwattho' Al-Imam Maalik karya Az-Zaqooni (jilid 4 hal 75, Al-Mathba'ah Al-Khiriyah, di pinggirannya ada sunan Abu Dawud) sebagaimana juga dinukil oleh Al-Munaawi dalam Faidhul Qodiir juz 4 hal 466.

Al-Baidhoowi berkata : Tatkala orang-orang yahudi dan nasrani sujud kepada kuburan-kuburan para nabi untuk mengagungkan kedudukan mereka, dan mereka menjadikan kuburan tersebut sebagai kiblat mereka sholat ke arah kuburan-kuburan tersebut, dan mereka menjadikan kuburan-kuburan tersebut sebagai berhala-berhala maka Allahpun melaknat mereka, dan melarang kaum muslimin dari perbuatan seperti ini.

Adapun barangsiapa yang menjadikan masjid di dekat orang sholeh atau sholat di kuburannya dengan maksud merasakan kedekatan dengan ruh orang tersebut atau sampainya atsar ibadah orang sholeh tersebut kepadanya, bukan karena mengagungkannya dan bukan untuk menghadap kepadanya maka tidaklah mengapa. Tidakah engkau lihat bahwasanya kuburan Ismail as berada di Al-Hathiim, kemudian masjid tersebut adalah tempat yang paling afdhol yang orang yang sholat berusaha untuk sholat di situ. Dan larangan untuk sholat di kuburan hanyalah khusus bagi kuburan yang telah digali karena ada najisnya"

Demikian perkataan Al-Baidhoowi rahimahullah secara lengkap yang dijadikan dalil oleh Habib Munzir untuk mendukung keyakinannya bahwasanya yang dimaksud dengan menjadikan kuburan sebagai masjid adalah menginjak-nginjaknya.


Kandungan perkataan Al-Baidhowiy rahimahullah:

Di bawah ini ringkasan tentang pernyataan Al Baidhawiy dan juga sanggahan terhadap pernyataan beliau yang kurang sesuai dengan dalil dari Al Quran dan Sunnah serta pemahaman para shahabat radhiyallahu ‘ahum, dan ini juga sekaligus menyanggah pendapat Habib Munzir yang berdalil dengan pendapatnya Al Baidhawiy tersebut.




Ada beberapa pernyataan yang bisa disimpulkan dari perkataan Al-Baidhawi di atas, diantaranya : Dua pernyataan disepakati karena sesuai dengan dalil-dalil yang ada. Kedua perkara tersebut adalah :

Pertama : Al-Baidhowi mengharamkan orang yang sholat di kuburan dengan maksud mengagungkan penghuni kubur

Kedua : Al-Baidhowi juga mengharamkan sholat ke arah kuburan

Dan ada tiga pernyataan yang tidak disetujui karena bertentangan dengan dalil atau tidak dibangun di atas dalil yang shahih. Tiga pernyataan tersebut adalah :  

Pertama :  'illah (sebab) larangan sholat di kuburan adalah karena najis

Kedua : Kuburan Nabi Ismail 'alaihi salam berada di Al-Hathiim di Al-Masjid Al-Haram

Ketiga : Bolehnya sholat dekat kuburan orang sholeh untuk mencari keberkahan dengan maksud merasakan kedekatan dengan ruh orang tersebut atau sampainya atsar ibadah orang sholeh tersebut kepadanya.

Adapun ketiga perkara yang terakhir ini maka tidak dibangun di atas dalil atau bertentangan dengan dalil yang shahih.


Sanggahan terhadap tiga pernyataan Al-Baidhowi

Sesungguhnya Al-Baidhowi adalah termasuk dari jajaran para ulama, para imam kaum muslimin, sebagaimana Abu Hanifah, Malik bin Anas, As-Syafii, Ahmad bin Hanbal, Ats-Tsaury, Ibnu Al-'uyainah, Al-Bukhari, Muslim, Ibnu Hajr, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim, Ibnu Katsirr, dll

Akan tetapi tidak seorangpun dari mereka yang ma'sum (terjaga dari kesalahan).

Mujahid rahimahullah pernah berkata :

لَيْسَ أَحَدٌ بَعْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ إِلاَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Tidak ada seorangpun –setelah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam- kecuali diambil pendapatnya dan ditinggalkan, kecuali Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam al-Qirooah kholfa al-Imaam, dan juga Ibnu Abdil Barr dalam Jaami' bayaan al-'ilmi wa fadhlihi)

Maka sebelum menyanggah pernyataan Al-Baidhawi maka ada baiknya para pembaca sekalian mencermati kembali hadits-hadits yang telah saya sampaikan di tulisan yang lalu (lihat : http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/185) yang seluruhnya melarang dijadikannya kuburan sebagai masjid.



Sanggahan terhadap pernyataan Al Baidhawiy yang pertama :

Adapun sanggahan terhadap pernyataan Al-Baidhawi yang pertama yaitu larangan sholat di kuburan khusus bagi kuburan yang sudah digali karena adanya najis…, maka bantahan terhadap pernyataan ini dari beberapa sisi:

Pertama : Seluruh hadits-hadits di atas yang melarang menjadikan kuburan menjadi mesjid seluruhnya datang secara mutlak tanpa membedakan antara kuburan yang baru atau kuburan yang sudah digali. Tidak ada satu haditspun yang shahih yang menunjukan bahwasanya larangan hanya mencakup kuburan yang telah digali

Kedua : Dalam hadits-hadits di atas Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat orang-orang yahudi dan nasrani yang menjadikan kuburan para nabi mereka dan juga kuburan orang-orang sholih diantara mereka sebagai masjid. Hal ini menunjukan:

-         Mereka menjadikan masjid di atas kuburan para Nabi tersebut yang dalam keadaan belum digali. Justru keberadaan jasad para nabi tersebut dalam kuburan itulah yang menjadikan mereka beribadah di kuburan karena mengagungkan para nabi

-         Taruhlah kalau kuburan para Nabi tersebut digali (dan tentunya tidak demikian) maka sungguh jelas bahwasanya jasad para Nabi suci, bahkan Allah menjaga jasad mereka sehingga tidak dimakan oleh tanah. maka bagaimana bisa kuburan-kuburan mereka ternajisi?.

-         Taruhlah yang digali adalah jasad orang sholeh…maka apakah tanah kuburan tersebut ternajisi dengan jasad orang sholeh tersebut…??. Bukankan Nabi bersabda :

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لاَ يَنْجُسُ

"Sesungguhnya seorang mukmin tidaklah najis" (HR Al-Bukhari no 285 dan Muslim no 371)

Ketiga : Habiibunaa Rasulullah shallallahu shallallahu 'alaihi wa sallam melarang sholat ke arah kuburan. Beliau bersabda :

لا تُصَلُّوْا إلىَ القبوْرِ

"Janganlah kalian sholat ke arah kuburan"

Jadi meskipun sholatnya tidak di tanah kuburan itupun telah dilarang oleh Habiibunaa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Kalau seandainya larangan itu karena najis tanah kuburan tentunya sholat menghadap kuburan tidak dilarang.

Keempat : Tempat dibangunnya masjid Nabawi adalah kuburan orang-orang musyrik. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiallahu 'anhu

وَأَنَّهُ أَمَرَ بِبِنَاءِ الْمَسْجِدِ فَأَرْسَلَ إِلَى مَلَإٍ مِنْ بَنِي النَّجَّارِ فَقَالَ يَا بَنِي النَّجَّارِ ثَامِنُوْنِي بِحَائِطِكُمْ هَذَا، قَالُوا: لاَ واللهِ لاِ نَطْلُبُ ثَمَنَهُ إِلاَّ إِلَى اللهِ، فَقَالَ أَنَسٌ : فَكَانَ فِيْهِ مَا أَقُوْلُ لَكُمْ قُبُوْرُ الْمُشْرِكِيْنَ، وَفِيْهِ خَرِبٌ وَفِيْهِ نَخْلٌ فَأَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقُبُوْرِ الْمُشْرِكِيْنَ فَنُبِشَتْ ثُمَّ بِالْخَرِبِ فَسُوِّيَتْ وَبِالنَّخْلِ فَقُطِعَ

"Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk membangun masjid, maka beliaupun mengirim (utusan) kepada sekelompok orang dari Bani An-Najjar (*yaitu pemilik kebun yang merupakan lokasi yang dipilih Nabi untuk membangun masjid nabawi-pen). Beliau berkata, "Wahai Bani An-Najjaar juallah kepadaku kebun kalian ini !", mereka berkata, "Tidak, demi Allah kami tidak akan meminta harga kebun ini kecuali kepada Allah".

Anas berkata, "Di kebun tersebut –sebagaimana yang aku katakan kepada kalian- ada kuburan orang-orang musyrik, ada reruntuhan-reruntuhan, dan ada pohon-pohon korma. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun memerintahkan untuk menggali kuburan orang-orang musyrikin, maka digalilah kuburan mereka, dan memerintahkan agar bekas reruntuhan-reruntuhan diratakan dan agar pohon-pohon korma ditebang" (HR Al-Bukhari no 428)

Dan tidak diriwayatkan bahwasanya Nabi shallallahu 'alahi wa sallam memindahkan tanah bekas galian kuburan orang-orang musyrik. Bahkan Nabi meratakan tanah galian tersebut dan kemudian sholat di atas tanah tersebut, tanpa ada karpet yang diletakan di atas tanah tersebut.

Kelima : Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang membangun masjid di atas kuburan, kalau seandainya larangan tersebut karena najisnya tanah kuburan maka sangat dengan mudah menghilangkan najis tersebut. Hanya tinggal di beri semen dengan baik dan dibersihkan sehingga tidak terkena tanah kuburan, lalu dibangunlah masjid di atas kuburan. Tentu ini jelas bertentangan dengan hadits-hadits Nabi.

Keenam : Dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga melaknat orang yang membuat penerangan di atas kuburan. Tentunya 'illah (sebab) larangan tidak ada hubungannya dengan najisnya tanah kuburan. Sebab larangan tersebut tidak lain adalah karena hal itu (pembuatan lampu) merupakan sarana yang mengantarkan pada pengagungan penghuni kubur. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggandengankan laknatnya pada orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid dengan laknat beliau kepada orang-orang yang menjadikan lampu di kuburan. Hal ini menunjukkan bahwa sebab larangan kedua perkara tersebut adalah sama, yaitu sama-sama merupakan sarana yang mengantarkan pada pengagungan penghuni kubur.

Ketujuh : Kalaupun kita terima bahwasanya larangan sholat di kuburan karena najis maka kita katakan masih ada sebab-sebab lain yang menjadikan larangan untuk sholat di atas kuburan atau ke arah kuburan, yaitu tasyabbuh dan sarana yang mengantarkan kepada kesyirikan.


Sanggahan terhadap pernyataan kedua Al-Baidhawi


Adapun pernyataan Al-Baidhawi bahwasanya kuburan Nabi Ismail 'alaihi salam berada di Al-Hathiim di Al-Masjid Al-Haram maka merupakan pernyataan yang tidak benar. Hal ini ditunjukan dari beberapa sisi :

Pertama : Hadits yang menunjukan pernyataan ini tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang masyhuur seperti Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan AT-Thirimidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasai, Sunan Ibnu Maajah, Musnad Al-Imam Ahmad, Mu'jam At-Thobroni (baik al-Mu'jam Al-Kabiir, maupun Al-Awshoth, maupun As-Shogiir).

Dan memang ternyata setelah diperiksa derajat haditsnya lemah. Mari kita perhatikan di bawah ini:

As-Suyuthi menyebutkan adanya sebuah hadits yang marfu' yang diriwayatkan oleh Aisyah. As-Suyuthi berkata:

"Sesungguhnya kuburan Isma'il di al-Hijr". (Diriwayatkan oleh Al-Haakim di (kitab) Al-Kunaa, dari Aisyah"

Demikian perkataan As-Suyuthy dalam Al-Jaami' As-Shoghiir fi Ahaadiits Al-Basyiir An-Nadziir juz 1 hal 141 no 2338, Daar Al-Kutub Al-'Ilmiyah cetakan kedua 1425 H.

Dan maksud dari Al-Imam As-Suyuthi dengan Al-Haakim adalah Al-Haakim Al-Kabiir yaitu Abu Ahmad Al-Haakim penulis buku Al-Asaami wa Al-Kunaa gurunya Abu Abdillah Al-Haakim penulis buku Al-Mustadrok dan juga buku Al-Kunaa wa Al-Alqoob.

Hadits ini diriwatykan oleh Al-Haakim Al-Kabiir dalam kitab Al-Asaami wa al-Kunaa juz 1 hal 239 pada tarjamah biografi no 126 Abu Ismail Al-Kuufi.

Al-Haakim meriwayatkan dengan sanadnya

نا أبو إسماعيل الكوفي عن ابن عطاء عن أبيه عن عائشة قالت : سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول : إن قبر إسماعيل في الحجر

dari Abu Isma'iil Al-Kuufi dari anaknya 'Athoo dari ayahnya dari Aisyah berkata : Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata : "Sesungguhnya kuburan Isma'iil di al-Hijr" (Al-Asaami wa Al-Kunaa, karya Abu Ahmad Al-Haakim, tahqiq : Yusuf Muhammad Ad-Dakhiil, Maktabah Al-Gurobaa' Al-'Atsariyah, cetakan pertama 1414 H, juz 1 hal 239)

Dalam sanad ini ada dua 'illah (penyakit yang menyebabkan lemahnya hadits ini)

Pertama : Ada perawi yang dikenal dengan Abu Isma'iil Al-Kuufii, dan ia adalah seorang perawi yang lemah. Adz-Dzahabi berkata :

Abu Ismaa'il Al-Kuufi adalah guru Ali bin Al-Ja'ad, ia tidak dikenal, dan khobarnya goriib. (Adz-Dzahabi menyebut hal dalam dua kitabnya Al-Mughni fi Ad-Du'afaa, tahqiiq : Nuururddin 'Itr juz 2 hal 446 no 7301 dan Mizaan al-'I'tidaal fi Naqd Ar-Rijaal, tahqiq : Ali Muhammad Al-Bujaawi, Daar Al-Ma'rifah juz 4 hal 491, dan pernyataan Adz-Dzahabi ini diikuti oleh Ibnu Hajr dalam Lisaan Al-Mizaan, tahqiiq : Abdul Fattaah Abu Guddah juz 9 hal 13)

Kedua : Abu Isma'iil dalam sanad ini meriwayatkan dari Ibnu 'Athoo'. Dan Abu Ahmad Al-Haakim berkata : "Menurutku (Ibnu 'Athoo') adalah Ya'quub bin 'Athoo' bin Abi Robaah Al-Fihry" (Al-Asaami wa Al-Kunaa 1/239). Dan Ya'quub bin 'Athoo' bin Abi Robaah ini juga dalah seorang perawi yang lemah. Adz-Dzahabi berkata :

"Ya'quub bin 'Athoo' bin Abi Robaah meriwayatkan dari ayahnya, ia dinyatakan lemah oleh Imam Ahmad. Dan Abu Haatim berkata : Ia tidak kuat" (Al-Mughni fi Ad-Du'afaa' juz 2 hal 433 no 7198)

Dengan demikian jelas bahwa hadits tentang kuburan Isma'il 'alaihis salaam di Al-Hathiim adalah hadits yang lemah. Selain diriwayatkan dalam literatur yang tidak masyhuur juga diriwayatkan dengan sanad yang lemah. Hadits ini juga telah dinyatakan lemah oleh As-Sakhoowi (dalam kitabnya Al-Mqoosid Al-Hasanah fi bayaan katsiir min Al-Ahaadiits Al-Musytahiroh 'Alaa Al-Alsinah, tahqiiq : Abdulloh Muhammad As-Siddiiq, daar Al-Kutub Al-'Ilmiyah, cetakan pertama 1399 H, hal 303 no 759), kemudian dilemahkan juga oleh Muhammad bin Tohir Al-Fatani Al-Hindi (dalam kitabnya Tadzkirot Al-Maudhu'aat, cetakan Al-Muniiriyah, hal 220), juga dilemahkan oleh Al-'Ajluuni (dalam kitabnya : Kasyf Al-Khofaa' wa Muziil Al-Ilbaas, tahqiiq Yuusuf bin Mahmuud Al-Haaj, Maktabah Al-'Ilm Al-Hadiits, juz 2 hal 107 no 1854).

Kedua : Hanya ada atsar-atsar mauquuf (dari perkataan sahabat) yang menunjukan akan hal ini. Akan tetapi atsar-atsar tersebut:

-         Diriwayatkan dalam buku sejarah Akhbaar Makkah wa maa jaa'a fii haa min al-Aatsaar, karya Al-Azroqy

-         Atsar-atsar tersebut tidaklah shahih sanadnya, bahkan diriwayatkan dengan sanad-sanad yang mu'dhol (yaitu yang terputus dua rawi atau lebih secara berurutan). Diantaranya adalah atsar yang diriwayatkan oleh Al-Azroqi dari Abdullah bin Az-Zubair radhiallahu 'anhu (lihat Akhbaar Makkah, tahqiiq : Prof DR Abdul Malik Duhaisy, Maktabah Al-Asadi juz 1/310 no 234 juga 1/431 no 389).


Ketiga : Taruhlah bahwasanya ternyata benar bahwa Nabi Isma'iil 'alaihis salaam dikuburkan di al-Hijr, akan tetapi bekas dari kuburan tersebut sudah tidak tersisa sama sekali. Sehingga orang-orang yang melaksanakan thowaf maupun sholat di Al-Masjid Al-Haroom sama sekali tidak melihat atsar (bekas dan sisa) dari kuburan tersebut. Bahkan terlalu banyak jama'ah haji yang sama sekali tidak merasakan ada kuburan di situ, sehingga tidaklah terbetik dalam benak mereka untuk merasakan kehadiran ruuh Nabi Ismail tatkala  mereka thowaf atau sholat di ka'bah.

Karenanya kondisi seperti ini tidak bisa diqiaskan dengan kondisi kuburan orang-orang sholeh yang tinggi yang sangat jelas kuburannya dan sangat memberi pengaruh kepada orang yang beribadah di situ sehingga mengantarkan kepada bentuk pengagungan kepada penghuni kubur.

Selain itu kita ketahui bersama bahwasanya bumi adalah tempat dikuburkannya manusia, dan tentunya terlalu banyak orang-orang sholeh ratusan atau ribuan tahun yang lalu yang di kubur di dalam bumi, namun telah hilang bekas-bekas kuburan-kuburan mereka. Sehingga jika kita membuat masjid di atas tempat yang seperti ini maka tidak mengapa mengingat tidak ketahuan dan tidak kelihatan lagi bekas-bekas kuburan. Hal ini berbeda dengan kuburan-kuburan yang dibangun dan ditinggikan. Maka syari'at membedakan antara dua jenis kuburan, kuburan yang ditinggikan dan kuburan yang telah hilang sama sekali bekasnya. Wallahu A'lam.


Ali Al-Qoori berkata :

وَذَكَرَ غَيْرُهُ أَنَّ صُوْرَةَ قَبْرِ إِسْمَاعِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَي الْحِجْرِ تَحْتَ الْمِيْزَابِ وَإِنَّ فِيْ الْحَطِيْمِ بَيْنَ الْحَجَرِ الأسْوَدِ وَزَمْزَم قَبْرَ سَبْعِيْنَ نَبِيًّا وَفِيْهِ أَنَّ صُوْرَةَ قَبْرِ إِسْمَاعِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَغَيْرِهِ مُنْدَرِسَةٌ فَلاَ يَصْلُحُ الاِسْتِدْلاَلُ بِهِ

"Dan selainnya menyebutkan bahwasanya kuburan Isma'il 'alaihis salaam berada di al-Hijr di bawah mizaab (ka'bah). Dan di Al-Hathiim –antara al-Hajr al-Aswad dan zamzam ada kuburan tujuh puluh orang nabi. Dan pada hal ini bentuk kuburan Isma'il 'alaihis salaam dan yang kuburan selainnya telah hilang, maka tidak bisa untuk dijadikan dalil" (Miqoot al-Mafaatiih syarh Misykaat Al-Masoobiih, tahqiiq : Jamaal 'Iytaaniy, Daar Al-Kutub al-'Ilmiyah, cetakan pertama 1422 H, juz 2 hal 389)

Akan tetapi sebagaimana telah lalu bahwasanya yang benar adalah tidak ada dalil yang menunjukan bahwasanya kuburan Nabi Isma'il berada di al-Hijr atau Al-Hathiim. (bersambung….)


Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 04-11-1432 H / 02 Oktober 2011 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
www.firanda.com



Artikel terkait:

_____________________
Posted on 02.36 / 0 komentar / Read More

Bantahan Terhadap Habib Munzir Al-Musawa ( Yang ke 2 ) : Benarkah Rasulullah Tidak Mengkhawatirkan Kesyirikan Pada Seluruh Umatnya?

PENDAHULUAN

Sebagian saudara kita ada yang berpendapat: “Nabi tidaklah mengkhawatirkan kesyirikan bagi kaum muslimin”. Konsekuensi dari ucapan ini adalah: “untuk apa terlalu dalam mengkaji permasalahan tauhid, toh yang paling dikhawatirkan Nabi terjadi pada umatnya bukanlah kesyirikan”. Pendapat semacam ini juga dikemukakan oleh Habib Munzir al-Musawa dalam bukunya ‘MENITI KESEMPURNAAN IMAN’ (buku yang ditulis untuk menyanggah tulisan Syaikh Bin Baz). Silakan lihat halaman 89 dan 130.


Setelah secara panjang lebar Syaikh Bin Baz menjelaskan keutamaan Tauhid dan bahaya kesyirikan, Habib Munzir justru meremehkan pemaparan tersebut dengan menyatakan (halaman 89-90):
Rasul bersabda: “Aku sungguh tidak merisaukan syirik menimpa kalian setelah aku wafat, yang kurisaukan adalah keluasan dunia yang membuat kalian saling hantam memperebutkannya (Shahih Bukhari)

Inilah jawaban Nabi saw terhadap kekuasaan Saudi Arabia yang menguasai Haramain, mereka sangat merisaukan dan meributkan kesyirikan, namun mereka saling bunuh demi berebut kekayaan, mereka rela mengundang dan membayar ribuan pasukan AS ke negeri mereka demi membantai saudara mereka muslimin mereka sendiri demi memperebutkan minyak.

Mereka rela tidak membantu Palestina yang dibantai Israel demi naiknya harga minyak, inilah yang telah dikabarkan oleh Rasul

“Sungguh Demi Allah aku tidak takut syirik menimpa kalian, namun yang kutakutkan adalah keluasan dunia yang kalian saling memperebutkannya” (Shahih Bukhari)

Jawaban Rasul ini membungkam semua lidah orang yang merisaukan syirik atas muslimin yang beribadah

Kesimpulan dari tulisan Habib Munzir di atas adalah:

1. Janganlah merisaukan kesyirikan terhadap kaum muslimin, karena Nabi sendiri tidak merisaukannya.

2. Kekuasaan Saudi Arabia sangat meributkan kesyirikan mereka rela mengundang dan membayar ribuan pasukan AS ke negeri mereka demi membantai saudara mereka sendiri demi memperebutkan minyak.

Hanya syubhat poin ke-1 yang akan dibahas dalam tulisan kami ini. Sedangkan poin ke-2, kami tidak akan membahasnya panjang lebar, karena fokus pembahasan tulisan kami ini adalah untuk menjawab pertanyaan: “Benarkah Nabi tidak mengkhawatirkan kesyirikan bagi seluruh kaum muslimin?”. Bagi yang ingin mengetahui pembahasan apakah poin ke-2 yang merupakan kesimpulan dari uraian Habib Munzir itu benar atau tidak, fakta atau sekedar tuduhan, silakan membaca buku berjudul “Mereka adalah Teroris” karya al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh (edisi revisi) halaman 378 sampai 481. Pada buku itu akan dijelaskan tentang hal-hal terkait ‘Perang Teluk’, pemutarbalikan fakta yang terjadi seputar hal tersebut, dan hukum meminta tolong kepada orang kafir/ musyrik, dan semisalnya.

DALIL – DALIL SYUBHAT

Berikut ini adalah dalil-dalil yang banyak digunakan untuk mengarahkan pada kesimpulan: ‘Nabi tidaklah mengkhawatirkan kesyirikan terhadap seluruh kaum muslimin sepeninggal beliau’.

1.Hadits: ‘Aku tidaklah mengkhawatirkan kalian berbuat kesyirikan sepeninggalku’

إِنِّي لَسْتُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا بَعْدِي وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا أَنْ تَنَافَسُوا فِيهَا وَتَقْتَتِلُوا فَتَهْلِكُوا كَمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

Sesungguhnya tidaklah aku mengkhawatirkan kalian berbuat kesyirikan sepeninggalku, tapi aku mengkhawatirkan atas kalian berlomba-lomba (untuk kepentingan) dunia dan kalian saling berbunuhan sehingga binasa sebagaimana kebinasaan umat sebelum kalian (H.R alBukhari dan Muslim, lafadz sesuai riwayat Muslim).

2.Hadits: ‘Sesungguhnya syaitan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang sholat di Jazirah Arab’

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

Sesungguhnya syaitan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang sholat di Jazirah Arab, akan tetapi ia (bersemangat) untuk membikin kerusakan (permusuhan) di antara kalian (H.R Muslim).

PENJELASAN UMUM

Dua hadits di atas adalah hadits yang shohih, namun kesalahan di dalam memahaminya akan mengakibatkan kesalahan dalam menyimpulkan. Hadits pertama bahwa Nabi shollallaahu alaihi wasallam menyatakan : “Aku tidaklah mengkhawatirkan kalian berbuat kesyirikan sepeninggalku”, bukanlah artinya bahwa Nabi tidak mengkhawatirkan untuk seluruh kaum muslimin tanpa terkecuali. Namun, ucapan Nabi ini ditujukan kepada pada para Sahabat Nabi yang sudah kokoh dalam tauhid dan keimanan. Nabi tidak menyatakan : Kalian tidak akan pernah berbuat kesyirikan lagi, atau ucapan semisalnya.

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin berkata:

وأخبر صلى الله عليه وسلم أنه لا يخشى على أمته الشرك لأن البلاد ولله الحمد فتحت وصار أهلها إلى التوحيد ولم يقع في قلب النبي صلى الله عليه وسلم أنه يقع الشرك بعد ذلك لكن لا يفهم من هذا أي من كونه لا يخاف الشرك على أمته ألا يقع فإن الشرك وقع الآن فهو موجود الآن من المسلمين من يقول إنه مسلم وهو يطوف بالقبور ويسأل المقبورين ويذبح لهم وينذر لهم فهو موجود والرسول صلى الله عليه وسلم لم يقل إنكم لن تشركوا حتى نقول إن ما وقع ليس بشرك لأن الرسول نفى أن يكون الشرك وهو لا ينطق عن الهوى لكن قال إني لا أخاف وهذا بناء على وقوع الدعوة في عهده صلى الله عليه وسلم وبيان التوحيد وتمسك الناس به لكن لا يلزم من هذا أن يستمر ذلك إلى يوم القيامة ويدل لهذا أنه صح عن الرسول صلى الله عليه وسلم لا تقوم الساعة حتى تعبد فئام من أمته الأوثان أي جماعات كبيرة ولكن الرسول صلى الله عليه وسلم في تلك الساعة لا يخشى على أمته الشرك (شرح رياض الصالحين 1-2237)

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam mengkhabarkan bahwa beliau tidaklah mengkhawatirkan atas umatnya kesyirikan. Karena negara-negara – Alhamdulillah- telah dibuka dan penduduknya berada di atas tauhid, dan tidak terbetik dalam hati Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa akan terjadi kesyirikan setelah itu. Namun, tidaklah bisa dipahami dari hadits ini – tentang Nabi tidak mengkhawatirkan kesyirikan atas umat ini- bahwa kesyirikan tidak akan terjadi. Kesyirikan terjadi saat ini, ada pada saat ini. Di antara kaum muslimin ada yang menyatakan bahwa ia muslim namun ia berthawaf di kuburan, meminta kepada penghuni kubur, menyembelih (kurban) untuk mereka, bernadzar untuk mereka, hal itu benar terjadi. Rasul shollallaahu ‘alaihi wasallam tidaklah menyatakan: ‘kalian tidak akan berbuat kesyirikan’, sehingga kemudian kita katakan: “apa yang terjadi bukanlah kesyirikan, karena Nabi menafikan kesyirikan dan beliau tidaklah berbicara berdasarkan hawa nafsu”. Akan tetapi Nabi menyatakan: Sesungguhnya aku tidak khawatir terhadap kalian. Ini adalah berdasarkan hasil dakwah di masa hidup Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam dan penjelasan tauhid dan manusia (pada saat itu) kokoh berpegang teguh dengannya (tauhid). Akan tetapi, tidaklah hal itu berarti bahwa keadaan ini akan terjadi sampai hari kiamat. Hal yang menunjukkan itu adalah bahwa telah shahih dari Rasul shollallaahu ‘alaihi wasallam : Tidak akan terjadi hari kiamat sampai sekelompok besar dari umatku menyembah al-Autsaan (berhala). Akan tetapi Nabi pada waktu itu tidaklah mengkhawatirkan kesyirikan terhadap umatnya (Syarh Riyaadus Sholihin 1/2237).

Hadits pertama tentang Nabi tidak mengkhawatirkan kesyirikan tersebut adalah diriwayatkan dari Sahabat Uqbah bin Amir dan hal itu terjadi pada tahun meninggalnya Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam setelah peristiwa haji Wada’. Dalam hadits tersebut Uqbah bin Amir menyatakan: ‘itu adalah terakhir kali aku melihat Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam di atas mimbar’. Hal itu menunjukkan bahwa Nabi melihat kondisi kaum muslimin sudah sangat kuat di atas tauhid kepada Allah. Sehingga pada waktu itu bukanlah kesyirikan yang beliau takutkan menimpa para Sahabat tersebut, karena kebanyakan orang-orang pada waktu itu menyaksikan langsung demikian mulya dan kuatnya Islam, dan demikian hinanya kesyirikan, setelah Fathu Makkah dan Haji Wada’. Banyak orang-orang yang berbondong-bondong masuk Islam.

Sedangkan hadits ke-2, atau yang semakna dengannya, telah ada penjelasan dari Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad –hafidhahullah- :

السؤال: كيف يجمع بين حديث: (إن الشيطان قد أيس أن يعبده المصلون في جزيرة العرب)، و بين هذا الحديث: (لا تقوم الساعة حتى تلحق قبائل من أمتي بالمشركين)؟ الجواب: لا تنافي بين الحديثين؛ لأن حديث: (أيس أن يعبده) معناه: أن جزيرة العرب كلها تصير على عبادته، وأنه يحصل فيها الارتداد، وهذا لا يكون، وأما كونه يوجد قبائل أو جماعات تخرج وترتد، والإسلام باق، والمسلمون باقون، فإن هذا حاصل وواقع. أما كون الجزيرة كلها تحصل فيها الردة وتبقى خالية من الإسلام وأهل الإسلام فهذا لا يكون؛ ولهذا يئس أن يعبده المصلون في جزيرة العرب، واليأس يحمل على العموم، وليس على منع ذلك مطلقاً؛ وكما هو معلوم في زمن أبي بكر حصلت الردة، ووجد في جزيرة العرب مرتدون، فإذاً يوفق بينها بأن حديث: (أيس الشيطان) معناه: أنه لا تحصل العبادة له مطلقاً؛ ولا تحصل الردة الكلية التي لا يبقى أحد دون أن يرتد، فإن الجزيرة يبقى فيها الإسلام، ولا ينقطع منها حتى إن وجد فيها من خرج وارتد عن الإسلام. ) شرح سنن أبي داود لعبد المحسن العباد(

Pertanyaan: Bagaimana menggabungkan antara hadits : ‘Sesungguhnya Syaitan telah putus asa untuk disembah orang-orang yang sholat di Jazirah Arab’ dengan hadits: ‘Tidak akan terjadi hari kiamat sampai sebagian kabilah dari umatku bergabung dengan musyrikin’. Jawabannya adalah: Tidaklah dua hadits itu bertentangan. Hadits : (Syaitan) putus asa untuk disembah, maksudnya bahwa seluruh jaziratul Arab menyembah syaitan, dan terjadi kemurtadan seluruhnya. Hal ini tidak akan terjadi. Sedangkan kalau didapati sebagian kabilah atau sekelompok orang keluar/ murtad dari Islam, sedangkan Islam tetap ada, dan kaum muslimin tetap ada, maka ini terjadi. Kalau jazirah seluruhnya murtad sehingga kosong dari Islam dan Ahlul Islam, maka ini tidak akan terjadi. Karena itu, (syaitan) putus asa dari disembah oleh orang yang sholat. Keputusasaan ini dibawa pada makna secara umum, bukanlah berarti tidak akan terjadi secara mutlak. Sebagaimana telah dimaklumi bahwa di jaman (pemerintahan) Abu Bakr terjadi riddah (kemurtadan), dan didapati orang-orang murtad di jazirah Arab. Karena itu bisa digabungkan makna kedua hadits tersebut bahwa hadits ‘syaitan putus asa’ maknanya adalah tidak akan terjadi peribadatan kepada syaitan secara menyeluruh, tidak akan terjadi kemurtadan secara menyeluruh yang berarti tidak ada yang tertinggal kecuali orang yang murtad. Karena sesungguhnya Jazirah (Arab) akan tetap ada Islam di dalamnya. Tidaklah terputus darinya meski ada yang keluar/ riddah dari Islam (Syarh Sunan Abi Dawud lisySyaikh Abdil Muhsin al-Abbad).

Hadits-hadits tersebut semakna dengan firman Allah:

…الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا…
pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa dari agama kalian maka janganlah takut kepada mereka, takutlah kepadaKu. Pada hari ini Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku sempurnakan untuk kalian nikmatKu dan Aku ridla Islam bagi kalian sebagai agama… (Q.S al Maaidah:3)

Dalam ayat tersebut Allah menyatakan bahwa orang-orang kafir telah putus asa dari agama kaum muslimin. Artinya, mereka putus asa dari keinginan agar seluruh kaum muslimin murtad. Mereka putus asa karena setelah Fathu Makkah tersebut (terutama semakin nampak saat Haji Wada’ bersama Rasulullah), jumlah kaum muslimin semakin banyak dan banyak yang masuk Islam secara berbondong-bondong. Islam menjadi jaya dan sangat mulya. Syiar-syiar kesyirikan musnah. Keterkaitan ayat ini dengan hadits ke-2 di atas dijelaskan oleh al-Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Sedangkan al-Imam atThobary menyatakan:

قال ابن جريج: وقال آخرون ذلك يوم عرفة، في يوم جمعة، لما نظر النبي صلى الله عليه وسلم فلم ير إلا موحِّدًا، ولم ير مشركًا، حمد الله، فنزل عليه جبريل عليه السلام:"اليوم يئس الذين كفروا من دينكم"، أن يعودوا كما كانوا

Ibnu Juraij berkata: sebagian Ulama yang lain berkata bahwa hal itu terjadi pada hari Arafah pada hari Jumat, ketika Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam tidaklah melihat kecuali orang yang mentauhidkan Allah, beliau tidak melihat adanya orang musyrik. Rasul memuji Allah, kemudian Malaikat Jibril turun (dan menyampaikan wahyu) : “pada hari ini orang-orang kafir putus asa dari agama kalian”. (mereka putus asa) untuk mengembalikan kalian (kepada agama) sebelumnya (Tafsir atThobary

Al-Izz Ibnu Abdissalam (salah seorang ulama’ asy-Syafi’i) menyatakan dalam tafsirnya:

{ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُواْ } من دينكم أن ترتدوا عنه ، أو أن يبطلوه أو يقدحوا في صحته ، وكان ذلك يوم عرفة في حجة الوداع بعد دخول العرب في الإسلام حين لم يرَ الرسول صلى الله عليه وسلم مشركاً

Orang-orang kafir putus asa dari agama kalian supaya kalian keluar dari agama (Islam), atau supaya mereka membatalkan, atau mengurangi sahnya. Hal itu terjadi pada hari Arafah pada haji Wada’ setelah masuknya orang Arab di dalam Islam ketika Rasul shollallaahu ‘alaihi wasallam tidaklah melihat orang musyrik (Tafsir Ibn AbdisSalaam (1/452)).

Apakah keputusasaan orang kafir tersebut berlaku secara mutlak hingga hari kiamat? Tentu saja tidak. Keputusasaan tersebut terjadi hanya pada masa-masa itu saja.

DALIL – DALIL YANG MENUNJUKKAN BAHWA KESYIRIKAN TETAP DIKHAWATIRKAN TERJADI PADA KAUM MUSLIMIN

1. Bahaya-bahaya kesyirikan banyak termaktub dalam Al Qur’an untuk selalu dibaca kaum muslimin: - berbuat syrik kekal di anNaar, perbuatan syirik tidak diampuni, perbuatan syirik menyebabkan terhapusnya amalan, dan semisalnya. Apakah kita mengira bahwa ayat-ayat tersebut hanya untuk sekedar dibaca tanpa makna dan peringatan bahwa kesyirikan itu sangat berbahaya?

2. Nabi Ibrahim berdoa agar dirinya dan anak-anak keturunannya dijauhkan dari menyembah berhala, dan doa itu diabadikan dalam al-Qur’an

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آَمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ (35)

“Dan ketika Ibrahim berkata: Wahai Tuhanku jadikanlah negeri ini aman. Jauhkan aku dan anakku dari menyembah berhala” (Q.S Ibrohim:35)

Seorang Ulama’ dari kalangan Tabi’in, Ibrohim at-Taimy berkata: Siapakah yang merasa aman dari musibah (kesyirikan) setelah Nabi Ibrohim? (Tafsir atThobary). Artinya, kalau Nabi Ibrohim saja yang demikian kuat ketauhidannya merasa takut dirinya dan keturunannya ditimpa syirik, maka lebih-lebih kita.

3. Tidak akan datang hari kiamat sampai sebagian kabilah umat Nabi Muhammad bergabung dengan musyrikin menyembah berhala

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى يَعْبُدُوا الْأَوْثَانَ

Tidaklah ditegakkan hari kiamat sampai kabilah-kabilah dari umatku bergabung dengan musyrikan dan sampai mereka menyembah berhala (H.R atTirmidzi)

4. Pesan Nabi menjelang meninggal agar tidak menjadikan kuburan para Nabi sebagai masjid dan beliau berdoa agar kuburan beliau tidak dijadikan sebagai sesembahan.

لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا

Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menghadapi sakaratul maut, maka beliau menempelkan ujung baju beliau ke wajah beliau sendiri. Dan ketika ujung baju itu telah menutupi wajahnya, maka beliau membukanya kembali seraya bersabda, “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashrani, mereka telah menjadikan makam Nabi-nabi mereka sebagai masjid.” Aisyah Radhiallahu Anha berkata, “Beliau memperingatkan agar tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan.” (H.R alBukhari dan Muslim dari Aisyah dan Ibnu Abbas)

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

‘Ya Allah janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai watsan yang diibadahi ‘. Sangat besar kemurkaan Allah terhadap kaum yang menjadikan kuburan para Nabinya sebagai masjid (H.R Malik)

Al-Imam Ibnu Abdil Bar berkata:

فقال صلى الله عليه وسلم: "اللهم لا تجعل قبري وثنا يصلى إليه ويسجد نحوه ويعبد فقد اشتد غضب الله على من فعل ذلك" ، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يحذر أصحابه وسائر أمته من سوء صنيع الأمم قبله الذين صلوا إلى قبور أنبيائهم واتخذوها قبلة ومسجدا كما صنعت الوثنية بالأوثان التي كانوا يسجدون إليها ويعظمونها وذلك الشرك الأكبر فكان النبي صلى الله عليه وسلم يخبرهم بما في ذلك من سخط الله وغضبه وأنه مما لا يرضاه خشية عليهم امتثال طرقهم

Rasul shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ya Allah jangan jadikan kuburanku sebagai watsan yang orang –orang sholat menghadap ke arahnya, sujud ke arahnya, dan disembah. Sungguh telah keras kemurkaan Allah atas orang yang melakukan hal tersebut. Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam memperingatkan para Sahabat dan seluruh umatnya dari keburukan perbuatan umat sebelumnya yang sholat menghadap ke arah kuburan para Nabi mereka dan menjadikannya sebagai kiblat dan masjid sebagaimana yang dilakukan para watsaniyyah terhadap autsaan (berhala)nya. Mereka sujud ke arahnya dan mengagungkannya. Itu adalah syirik akbar. Maka Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam mengkhabarkan pada mereka bahwa hal itu mendatangkan kemarahan dan kemurkaan Allah dan bahwa hal itu tidak diridlainya, beliau khawatir mereka (umatnya) mengikuti jalan mereka (orang-orang musyrik tersebut) (atTamhiid juz 5 halaman 45

Kami cukupkan sebagian dari sekian banyak penyebutan dalil yang menunjukkan hal tersebut. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan hidayah dan taufiqNya kepada segenap kaum muslimin.
_________________
http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2011/03/bantahan-terhadap-habib-munzir-al.html


Artikel terkait:
    Posted on 06.48 / 0 komentar / Read More
     
    Copyright © 2011. Memurnikan Akidah . All Rights Reserved
    Home | Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Site map
    Design by Herdiansyah . Published by Borneo Templates